Monday, December 6, 2010

BULAN MUHARRAM, ANTARA SUNNAH DAN BID'AH


Terdapat pula dibulan Muharram satu hari yang memiliki kedudukan yang mulia iaitu hari Asyura' yang penuh berkah, dan kemuliannya terpelihara sejak dulu kala, dimana Allah Ta'ala menyelamatkan Musa Alaihis salam bersama Bani Israil dari kezaliman Fir'aun dan bala tentaranya, dan Allah menenggelamkannya beserta kaumnya.

Telah disebutkan dalam dua kitab sahih (Bukhari dan Muslim) dari hadis Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam datang ke Madinah, lalu Beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa dihari Asyura', lalu Beliau bertanya kepada mereka: hari apakah yang kalian berpuasa padanya? Mereka menjawab: ini adalah hari yang agung, Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir'aun dan kaumnya, maka Musa berpuasa padanya sebagai rasa syukur, dan kamipun berpuasa." Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam berkata: kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.",maka Beliaupun berpuasa dan memerintahkan (kaum Muslimin) untuk melakukannya."

(Dikeluarkan Bukhari, kitab Ash-Shiyam bab: Shiyam yaumi Asyura' (1/478), Muslim dalam kitab Ash-Shiyam (1/504), no:1130,dari hadis Ibnu Abbas radhiallahu anhuma)

Termasuk keutamaannya bahwa berpuasa padanya menghapuskan kesalahan setahun yang lalu, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam :

«أَحْتَسِبُ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ»

"Aku berharap menghapus kesalahan setahun sebelumnya."
(Dikeluarkan Muslim kitab AshShiyam (1/519, no:1162),Abu Dawud kitab Ash-Shiyam bab: shaum Ad-Dahr tathawwu'an (2425), Ahmad dalam musnad (5/297), dari hadis Abu Qatadah Al-Anshari radhiallahu anhu)

Disukai pula berpuasa pada hari kesembilan, sebab ini merupakan akhir anjuran Nabi Shallallahu Alaihi wasallam dimana Beliau bersabda:
«لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لأَصُومَنَّ التَّاسِعَ»
"jika aku masih hidup ditahun kemudian,niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan."

(Dikeluarkan Muslim kitab Ash-Shiyam:1/505, no:1134, Ahmad dalam musnad (1/236), dari hadis Ibnu Abbas radhiallahu anhuma)

Hal ini unuk menyelisihi kaum Yahudi yang mereka menyendirikan Asyura dalam berpuasa.
Diantara hukumnya adalah dihapusnya hukum wajib berpuasa pada hari Asyura menjadi sunnah, berdasarkan hadis Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata:

"Nabi Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa, tatkala diwajibkan puasa ramadhan maka ditinggalkan (kewajiban) Asyura'"
(Dikeluarkan Bukhari kitab Ash-Shaum bab wujub shaum ramadhan (1/453), Ahmad dalam musnad (2/4), dari hadis Ibnu Umar radhiallahu anhuma)

Dalam hadis Aisyah radhiallahu anha disebutkan:
"tatkala diwajibkan ramadhan, Beliau meninggalkan (puasa) dihari Asyura, maka siapa yang ingin silakan dia berpuasa dan siapa yang ingin maka silakan ia meninggalkannya."
(Dikeluarkan Bukhari kitab Ash-Shaum bab: shayamu yaumi Asyura' (1/478), Muslim kitab Ash-Shiyam (1/501,no:1125),dari hadis Aisyah radhiallahu anha).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah:"dan diketahui bahwa tidak ditinggalkan hukum anjurannya, bahkan hukum disukainya tetap ada, maka hal ini menunjukkan bahwa yang ditinggalkan hukumnya adalah wajibnya….. bahkan anjuran yang kuat tetap ada, terlebih lagi Beliau yang terus mengamalkannya hingga tahun wafatnya Beliau Shallallahu Alaihi wasallam dimana Beliau bersabda: "Jika aku masih hidup, niscaya aku akan berpuasa dihari kesembilan dan sepuluh", dan Beliau menganjurkan untuk berpuasa dan menghapuskan dosa setahun. Anjuran apalagi yang lebih kuat dari hal ini?
(fathul bari, Ibnu Hajar:4/247)

Oleh kerana, tidak boleh meyakini wajibnya puasa dihari Asyura', dan tidak boleh pula meyakini wajib atau sunnahnya mengqadha' bagi yang tidak mengamalkan puasa dihari itu, dan tidak pula mengkhususkan puasa dihari kesembilan saja tanpa yang kesepuluh, sebagaimana tidak ada pula yang datang dari Nabi Shallallahu ALaihi Wasallam dan para sahabatnya dihari tersebut kecuali berpuasa.Tidak ada satupun yang disyariatkan dihari Asyura dari syi'ar-syi'ar hari raya, atau syi'ar kesedihan atau memberi keleluasaan kepada keluarga, tidak pula ada anjuran memukul-mukul dada, menarik rambut, merobek baju,dan menumpahkan darah. Sebab semua itu menyelisihi sunnah Nabi yang suci.

Berkata Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah:
"yang menjadi sandaran bagi kaum muslimin bahwa tidak sahih satupun hadis tentang hari Asyura', tidak pada siang harinya dan tidak pula malam harinya. Semua hadis yang meriwayatkan tentang hal tersebut, demikian pula tentang memberi keleluasaan kepada keluarga dihari Asyura' adalah palsu dan tidak sahih, tidak ada yang sahih kecuali berpuasa pada hari itu dan sehari sebelumnya, sebab itu merupakan hari yang Allah Azza wajalla menyelamatkan Nabi-Nya Musa Alaihis salam."
(sashih Ad-Du'a, Bakr Abu Zaid:109)

Aku berkata: dan telah sahih dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Aalihi Wasallam bahwa Beliau bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
"Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami sesuatu yang tidak berasal darinya maka hal itu tertolak."
(Muttafaq alaihi.Dikeluarkan Bukhari kitab: As-Shulhu bab: Idza Isthalahu 'ala shulhi jaur fash-shulhu mardud:2/5, Muslim kitab Al-Aqdhiyah (2/821,no:1718), dari hadits Aisyah radhiallahu anha)

Dan bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Aalihi Wasallam:
«إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ»
"jauhilah perkara-perkara baru,kerana sesungguhnya setiap urusan baru adalah bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat."

(Dikeluarkan Abu DAwud kitab As-sunnah bab: luzumus sunnah (4607),At-Tirmidzi kitab Al-Ilmu bab: ma jaa' fil akhdzi bis sunnah wajtinabil bida' (2676), Ahmad dalam musnad (4/126), dari hadits Irbadh bin Sariyah radhiallahu anhu. Hadits ini dishahihkan Ibnul Mulaqqin dalam Al-badr al-munir (9/582), Ibnu Hajar dalam muwafaqatul khubri al-khabar (1/136), Al-ALbani dalam Silsilah Ash-Shahihah (2735), dan dihasankan Al-Wadi'I dalam Ash-Shahih Al-Musnad (938).

Sangat disayangkan –demikian hakikatnya- dimana kaum muslimin tidak komitmen untuk mengikuti perkara yang disyariatka, dan mereka justru berlumba untuk menjadikan awal bulan Allah Muharram sebagai hari raya yang hubungannya dengan memasuki tahun baru hijriyyah sebagai pengganti tahun miladi (masehi), dan mereka menjadikannya sebagai wasilah untuk perayaan penanggalan tahunan dan menghidupkannya –sebagai bentuk pengagungan-dengan berbagai dzikir dan mengingat masa lalu, dengan khutbah, pelajaran, ceramah-ceramah, lantunan sya'ir-sya'ir, muzik dan kegiatan pendidikan, saling bertukar harapan dan ucapan selamat, dan yang lainnya dari apa yang diada-adakan manusia yang menampakkan tanda-tanda tasyabbuh (menyerupai) ahli kitab.

Dari sisi lain,berbagai kejadian yang mengagumkan dan peristiwa mulia yang terkumpul dalam sirah Nabi Shallallahu Alaihi wasallam yang harum,seperti diutusnya Nabi Shallallahu Alaihi Wa Aalihi wasallam kepada manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, diturunkannya wahyu kepada Beliau, mukjizat Al-Qur'an Al-Karim dan mukjizat lainnya, peristiwa malam isra' dan mi'raj, hijrahnya Beliau dari Makkah menuju Madinah, berbagai peristiwa peperangan dan pertempuran, penegakan daulah islam,dan mulianya bendera jihad fi sabilillah, dan tersebarnya dakwah ilallah diseluruh penjuru, dan yang lainnya dari berbagai kejadian yang agung yang terjadi pada zaman Beliau Shallallahu Alaihi Wa Aalihi wasallam, tidak terdapat sedikitpun dalam syariat adanya perayaan mengenang hijrahnya Nabi Shallallahu Alaihi Wa Aalihi wasallam pada awal bulan Allah Muharram pada setiap tahun baru sebagai hari raya atau hari libur bagi kaum muslimin dengan membiasakan hal itu dan mengulanginya. Sebab sebagaimana yang telah diketahui secara syar'I bahwa hari raya dan musim-musim keagamaan termasuk diantara permasalahan agama yang terbatas sifatnya, sedangkan ibadah dari sisi hukum adalah tauqifiyyah (yang tepaku kepada dalil) yang membutuhkan dalil disyariatkannya hal tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kaedah syari'at, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

مَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ

"Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui."
(QS.Al-Jatsiyah:18)

Dan firman-Nya:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih."
(QS.Asy-Syura:21)

Dan sabda RAsulullah Shallallahu Alaihi Wa Aalihi wasallam:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
"Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka hal itu tertolak."
(Dikeluarkan Muslim,kitab Al-Aqdhiyah (2/822, no:1718) dari hadis Aisyah radhiallahu anha)

Dan tidak ada yang menguatkan tentang perayaan awal bulan Muharram baik dari kitabullah ,dan juga sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Aalihi wasallam ,dan tidak pula dinukil dari para sahabat Beliau yang mulia,dan para tabi'in yang mengikuti mereka dengan kebaikan.

Dan tidak ada celah untuk menggolongkan berbagai perayaan tersebut sebagai bentuk pernyataan syukur kepada Allah Ta'ala,atau bentuk memuliakan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam, sebab bersyukur kepada Allah bukan dengan cara ikut serta dalam membuat syariat dan hukum baru.Allah Ta'ala berfirman:

لاَ يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

"Dan tidak ada seorangpun yang menyertainya dalam ketetapan hukumnya."(Al-Kahfi:26)
Namun bersyukur kepada Allah adalah dengan taat dan beribadah hanya kepada-Nya sesuai syariat-Nya, dan mengangungkan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Aalihi wasallam dengan mengikuti sunnahnya, dan taat kepadanya terhadap perintah dan larangannya, dan menerima sepenuhnya terhadap hukum-hukumnya dan menjadikannya sebagai panutan dalam setiap amalan dan beritanya, tanpa berbuat bid'ah dalam agama.Allah Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللهَ وَاليَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."
(QS.Al-Ahzab:21)

Dan firman-Nya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (QS.Ali Imran:31)

Berkata Ibnu Katsir rahimahullah Ta'ala:ayat yang mulia ini menjadi hakim atas setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah sementara dia tidak berada di atas jalan Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam,maka sesungguhnya dia dusta pada pengakuannya sampai dia mengikuti syariat Muhammad dan agama Nabi dalam seluruh ucapan dan perbuatannya,sebagaimana yang telah sahih dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam bahwa Beliau bersabda:

"Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak d iatas perkara kami maka hal itu tertolak."

Berkata Al-Hasan Al-Bashri dan selainnya dari ulama salaf: ada sebagian kaum mengaku cinta kepada Allah, maka Allah menguji mereka dengan ayat ini."
(tafsir Al-Qur'an Al-Azhim,Ibnu Katsir:1/358)

Kemudian dari sisi ketiga, tidaklah tersamarkan bahwa hari pertama dari bulan Allah Muharram merupakan permulaan penanggalan tahunan islam dari kalender hijriyyah,sebagaimana yang telah ditetapkan penanggalannya oleh para sahabat yang mulia radhiallahu anhum berdasarkan ijma' pada masa pemerintahan Umar.

(Al-bidayah wan-nihayah, Ibnu Katsir :3/177)

Hal ini menyelisihi permulaan penanggalan tahunan oleh kaum Nashara dimana mereka membuat penanggalan tersebut dari kelahiran Al-Masih Alaihis Salaam.Namun hijrah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam bukan terjadi pada bulan Muharram, namun hijrah Beliau dari makkah menuju MAdinah terjadi pada awal-awal bulan Rabi'ul awal pada tahun ke-13 setelah diangkatnya Beliau Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam menjadi Rasul, dan Beliau tiba di Kuba pada malam ke-12 Rabi'ul awal pada hari isnin, sebagaimana yang telah dijelaskan ahli hadis dan sejarah.

(lihat: Al-Bidayah wan-nihayah, Ibnu Katsir:3/177,190, Fushul min siratir rasul, Ibnu Katsir:80, mukhtashar siratir rasul, Muhammad bin Abdul Wahhab:2/166)

Dari sini jelaslah bahwa bulan Muharram bukanlah waktu hijrah Beliau Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam, namun niat kuat Beliau untuk hijrah dimulai pada bulan tersebut menurut pendapat yang paling kuat sebagaimana yang dijelaskan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, Beliau berkata:

"hanya saja mereka mengakhirkan (hijrah) dari Rabi'ul awal, sebab awal tekad untuk berhijrah terjadi pada bulan Muharram, dan bai'at terjadi pada pertengahan dzulhijjah yaitu pada saat kedatangan hijrah, maka hari pertama setelah bai'at dan bertekad untuk berhijrah pada awal Muharram sehingga sesuailah untuk dijadikan sebagai permulaan (penanggalan), ini adalah yang paling kuat dari yang aku ketahui berkenaan tentang awal permulaan dengan bulan Muharram."

(Fathul bari, Ibnu Hajar: 7/268)

Dari sisi yang keempat, merupakan bentuk menunaikan hak dan keadilan dimana kaum muslimin mengikuti Rasul Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam dan mengambil pelajaran dari sirahnya, dan mengambil faedah dari apa yang terjadi dizaman Beliau dari berbagai kejadian yang agung dan peristiwa yang mulia, lalu memetik pelajaran yang berharga dalam lingkaran sunnah,makna-maknanya terbentuk dalam suasana kejujuran yang akan membentuk perjalanan hidup seorang muslim, perangai dan akhlaknya, dengan sinarnya yang bersumber dari pelita kenabian, tidak hanya membatasi perjalanan hidup Nabi Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam dan hanya mengambil pelajaran dari beberapa kejadian tertentu dalam perayaan dan khutbah-khutbah dihari-hari tertentu saja dalam setahun yang terlewatkan sebagai kenangan masa lalu semata, dan terus diulang-ulang setiap tahun seperti halnya hari raya. Alangkah cepatnya terlupakan apa yang masuk kedalam benak seseorang disaat hari-hari itu berlalu tanpa memperhatikan pengaruhnya dari sisi keimanan dan akhlak serta perangai kaum muslimin dan perjalanan hidupnya. Bahkan sebaliknya, engkau melihat kebanyakan mereka terdorong untuk pindah dari negeri islam menuju negeri kafir kerana ingin tinggal bersama orang-orang kafir dan mendapatkan rezki sesuai keinginan mereka, lalu hidup di rumah-rumah mereka dengan kebebasan bak binatang ternak, lalu mencontoh kebiasaan, adat istiadat, dan gaya hidup mereka.Lalu dimana kalian melihat pengaruh keimanan dan amalan yang muncul dengan megenang hijrah Rasul Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam yang meninggalkan negeri syirik menuju negeri iman dan islam?.

Sesungguhnya perhatian besar salafus saleh dan yang mengikuti mereka dengan baik terhadap sejarah hidup Rasul pilihan Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam yang harum dan berbagai kejadian yang agung yang hanya didapatkan dengan mempelajarinya,dan mengambil pelajaran dan faedah darinya, dan semakin nampak manfaat dan nasihat darinya sepanjang tahun baik disiang maupun malam harinya, dan kandungannya akan memberi bentuk dalam perilaku dan perangainya sebagai bentuk menjadikan Beliau sebagai panutan, berjalan di atas petunjuknya dan menjadikannya sebagai suri tauladan dalam hal berdakwah kepada tauhid kepada-Nya, dan tauhid dalam hal mengikuti Rasul Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam, lalu mengamalkan apa yang diperintah oleh syariat dan meninggalkan apa saja yang dilarangnya, dengan mengamalkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam:

«المُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ»

"Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan apa yang Allah larang darinya."
(HR.Bukhari kitab; Al-Iman bab: man salimal muslimun min lisanihi wayadihi:1/9, dari hadits Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma)

Dalam hadis lain:

«المُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ السَّيِّئَاتِ»
"Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan kesalahan-kesalahan."
(HR.Ibnu Hibban dalam shahihnya (196), Abd bin Humaid dalam musnadnya (338), Al-Adani dalam Al-Iman (26), Ibnu Mandah dalam Al-Iman (318), Al-Marwazi dalam ta'zhim qadaris shalaah (545), dari hadits Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma. Dishahihkan Al-Albani dalam tahqiq kitab Al-Iman, karya Ibnu Taimiyyah (3)).

Berjalan sesuai dengan syariat terhadap apa yang dicintai dan diredai-Nya,dan apa-apa yang dimurkai, dibenci dan tidak diredainya dari berbagai ucapan, perbuatan, keyakinan, dan orang-orang tertentu sebagaimana yang telah diketahui dalam keyakinan al-wala' wal bara', yang merupakan hubungan dua kalimah syahadah dan merupakan salah satu syaratnya. Allah Ta'ala berfirman :

لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Kerana (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka."
(QS.Ali Imran:28)

Dan firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."

(QS.Al-Maidah:51)

Dan firman-Nya:
لاَ تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka."
(QS.Al-Mujadilah:22)

Demikian pula ayat-ayat lainnya.
Hijrah batin yang menyangkut amalAn hati itulah yang sejalan dengan kehidupan seorang muslim dan tidak terlepas darinya,lalu setelah itu hijrah badaniyah yang nampak yang sudah mencakup hijrah qalbiyah tersebut. Iaitu berpindahnya seorang muslim dari negeri syirik menuju negeri islam yang hukumnya wajib bagi yang tidak punya kemampuan untuk menampakkan syi'ar-syi'ar islam di negeri kafir tersebut, dan tidak mampu menegakkan al-wala' wal bara' (sikap loyal terhadap kaum mukminin dan berlepas diri dari orang-orang kafir)., dan dia tidak tergolong orang yang lemah yang tidak mampu berhijrah atau yang menghalanginya untuk berhijrah.

Keduanya merupakan bentuk berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam:

«فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ»

"barangsiapa yang hijrahnya menuju Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya."
(HR.Bukhari kitab bad'ul wahyi bab: kaefa kaana bad'ul wahyi ilaa Rasulillah Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam (1/3), Muslim kitabul Imarah (2/920, no:1907), dari hadis Umar bin Khatthab radhiallahu anhu)

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: hijrah ada dua macam:
- Hijrah menuju Allah dengan mencari, mencintai dan menyembah-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, kembali, berserah diri sepenuhnya, takut, berharap, dan menghadap kepada-Nya, dan jujur dalam berlindung kepada-Nya dan merasa butuh kepada-Nya disetiap waktu.

- Hijrah menuju Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Alihi Wasallam dalam dalam setiap gerak dan diamnya yang lahir maupun batin, dengan cara menyesuaikan dengan syariatnya yang menunjukkan kecintaan kepada Allah dan keredaan nya, dan Allah tidak akan menerima dari siapapun kecuali dengannya."
(Thariqul hijratain, Ibnul Qayyim, hal:20)

Semua ilmu ada disisi Allah Ta'ala, dan akhir ucapan kami adalah Alhamdulillah rabbil 'alamin, Selawat dan salam kepada Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya dan saudara-saudaranya hingga hari kiamat.

Sunday, December 5, 2010

Solat sunat sebelum maghrib?








Tidak ada dalil larangan solat sunat sebelum maghrib.Boleh dilakukan sekiranya mahu  tetapi bersyarat , iaitu tidak boleh melazimkan melakukannya pada setiap hari , kerana dikhuatiri menjadikannya solat sunat rawatib yang muakkad.
Ini kerana memang ada dalil hadis Nabi saw yang menyuruh solat 2 rakaat sebelum maghrib yang mana dalam hadis tersebut dikatakan boleh solat 2 rakaat bagi yang ingin solat dan dikatakan tidak boleh ianya dianggap sebagai solat sunat rawatib (HR Bukhari , no : 1183)

Perbahasan Rawatib Ghairu Muakkad Qabliyyah Sebelum Maghrib
Ulama berselisih pendapat mengenai solat 2 rakaat sebelum Maghrib. Ada ulama yang mengatakan bahawa tiada ada solat sunat sebelum solat fardu Maghrib. Ini diasaskan kepada larangan bahawa tidak ada pendirian solat selepas menunaikan fardu Asar sehingga masuk waktu Maghrib.
Ada ulama membolehkan solat Ghairu Muakkad Qabliyyah Sebelum Maghrib ini, berasaskan dalil berikut : Dari Abdullah bin Mughaffal Ra. ia berkata: Nabi SAW bersabda, “Di antara azan dan iqamah ada solat, di antara azan dan iqamah ada solat (kemudian di kali ketiga beliau berkata:) bagi siapa yang mau.” Beliau takut hal tersebut dijadikan oleh orang-orang sebagai keharusan. (Bukhari dan Muslim)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan satu hadis daripada Abdullah bin Mughaffal r.a. bahawa dia berkata, Nabi s.a.w bersabda; " Di antara azan dan iqamah itu ada sembahyang bagi sesiapa yang hendak melakukannya. Baginda s.a.w mengulanginya tiga kali."
Dan dalam riwayat Abu Daud, “Solatlah kalian sebelum Maghrib dua rakaat.” Kemudian beliau bersabda, “Solatlah kalian sebelum Maghrib dua rakaat bagi yang mahu.” Beliau takut orang-orang akan menjadikannya solat sunnah. (Abu Daud)
Ada juga ulama yang berpendapat bahawa solat Qabliyyah Maghrib itu hukumnya tidak sunat. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Imam Malik (pengasas mazhab Maliki). Bahkan ulama seperti Imam An-Nukha'i berpendapat bahawa solat Qabliyyah Maghrib itu bid'ah (baca kitab Syarah Sahih Muslim, Juz VI, halaman 123; dan kitab Nailul Authar, Juz I, halaman 407) Mereka berpendapat demikian, berdalil kepada sebuah hadis riwayat Ibnu Umar di bawah ini : Dari Thawus, ia berkata, "Ibnu Umar pernah ditanya tentang solat dua rakaat sebelum Maghrib. Beliau menjawab, "Saya tidak melihat seorangpun pada masa Rasulullah Saw. yang melakukannya. (Riwayat Abu Dawud; Kitab Sunan Abu Dawud, Juz II, halaman 26)
sekarang mari kita lihat perbahasan dan dalil-dalilnya.

وعن عبدالله بن مغفل المزني قال النبى صلى الله عليه وسلم؛ صلوا قبل المغربى . صلوا قبل المغربى . ثم قال فى الثالث ؛ لمن شأ كراهية ان يتخذهاالناس سنة: رواه البخا ري وفي رواية لأبن حبان ؛ ان النبى صلى الله عليه وسلم صلوا قبل المغربى ركعتين.

Dari Abdullah Bin Mungappal Almuzani Radhiallahuanhu dari Nabi S.A.W. beliau bersabda; solat sekalian sebelum maghrib, solat sekalian sebelum maghrib, kemudian beliau bersabda kali yang ketiga,
Hadis, 367 dari kitab Subulussalam (Syarah BulughulMaram) Karangan Sheikh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

ولمسلم: عن انس ؛ كنا نصلى ركعتين بعد غروب الشمس , وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يرانا , فلم يأ مرنا ولم ينهنا .
Berdasarkan Riwayat muslim dari Anas, Kami selalu Solat dua rakaat setelah terbenamnya matahari , sementara Rasulullah menyaksikan kami, beliau tidak memerintah kami dan tidak melarang kami.

Berdasarkan hadis ini bermakna solat sunat sebelum maghrib juga ditetapkan secara takrir.
DALIL yang menjelaskan solat sunat dua rakaat sebelum solat fardu Maghrib, jelas disebut dalam beberapa hadis. Ini termasuk Imam Bukhari, Muslim dan Abu Daud meriwayatkan bahawa Nabi SAW bersabda, “Kerjakanlah solat dua rakaat sebelum solat fardhu Maghrib (iaitu sesudah azan Maghrib), kerjakanlah solat dua rakaat sebelum Maghrib!”
Pada kali ketiga, Baginda menambah: “Bagi sesiapa yang mahu (tambahan ini), ” kerana Baginda SAW tidak mahu kalau orang menjadikannya sebagai kebiasaan.
Imam Bukhari , Muslim dan an-Nasa’I meriwayatkan juga bahawa sahabat Nabi, Anas bin Malik menjawab ketika ditanya oleh al-Mukhtar al-Muqaffal, “Apakah Nabi mengerjakan solat dua rakaat selepas masuknya waktu Maghrib dan sebelum solat fardhu Maghrib? Anas menjawab: “Baginda melihat kami mengerjakan solat, tetapi Baginda tidak menyuruh dan tidak juga melarang kami.”
Ada sepuluh rakaat solat sunat yang berkait dengan solat wajib yang amat dianjurkan, iaitu: dua rakaat sebelum solat Subuh, Zuhur, dan Asar serta dua rakaat sesudah Maghrib dan Isyak.


Kita sewajarnya akur bahawa solat sunat sebelum maghrib sememangnya termasuk dalam 'khilaf' di antara ulama', justeru, kita hendaklah berlapang dada dengan sesuatu pendapat yang lain walaupun pendapat tersebut tak sama dengan pegangan kita. Jangan hanya kerana taksub dengan sesuatu pendapat, kita terus menyalahkan amalan orang lain tanpa usul periksa.

Para ulama' yang menyatakan bahawa solat sunat dua rakaat sebelum maghrib termasuk dalam amalan sunat mempunyai dalil dan hujah, dan bukanlah pendapat mereka itu hanya membuta tuli sahaja. Sebagai contohnya ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahawa Rasulullah saw bersabda bermaksud: Solatlah kamu sebelum (solat) maghrib dan perkataan ini diulang oleh Rasulullah sebanyak tiga kali dan pada kali ketiga nabi menyatakan 'bagi sesiapa yang mahu mengerjakannya'. Manakala dalam hadis riwayat Muslim pula telah menyatakan bahawa Ibnu Abbas berkata yang bermaksud: 'Adalah kami (para sahabat) menunaikan solat dua rakaat sesudah terbenam matahari (sebelum solat fardhu maghrib), dan adalah nabi saw melihat kami, tetapi nabi tidak menyuruh dan tidak pula melarang'.
"Semasa  di madinah,muazzin menyerukan azan untuk solat maghrib.orang ramai segera ke tiang-tiang lalu masing-masing bersolat dua rakaat hingga orang asing yang baru masuk ke masjid menyangka solat telah selesai disebabkan ramai yg melakukan solat dua rakaat tersebut".

Kesimpulannya, solat sunat dua rakaat sebelum maghrib adalah sunat berhujahkan hadis 'qawli' (perkataan nabi), dan 'taqririy' (persetujuan atau pengakuan nabi terhadap amalan para sahabat). (Untuk penjelasan lanjut, sila rujuk kitab Subulus Salam syarah kepada Bulughul Maram, cetakan Maktabah Islamiah, Jordan tahun 2005 / 1426 H, halaman 296-297).

Saturday, December 4, 2010

Pengubatan cara Nabi ( Tibun Nabawi )

                                                              Habbatussauda

Pengubatan cara Nabi ( Tibun Nabawi )

Habbatussauda adalah sejenis tumbuhan berupa rumput kecil yang banyak tumbuh di daerah gurun dan di kawasan Mediterrania.

Memiliki batang yang tingginya lebih kurang 15 cm, memiliki kelopak bunga berwarna kebiruan dan di dalamnya terdapat biji-bijian berwarna hitam sebesar 3mm yang disebut Habbatussauda.

Nama biologi dari tumbuhan ini adalah Nigella Sativa. Dikenal juga sebagai "black cumin" dalam
 bahasa Inggeris dan "jinten hitam" dalam bahasa Melayu.
Klasifikasi

Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub-kelas : Magnoliidae
Ordo : Ranunculales
Familia : Ranunculaceae
Genus : Nigella
Spesies : Nigella sativa L.

Habbatussauda telah digunakan secara meluas sebagai ubat dari berjenis penyakit selama lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Riwayat Hadits yang mengulas tentang Habbatussauda diantaranya:
"Tetaplah kamu berubat dengan Habbatussauda, kerana sesungguhnya di dalamnya mengandungi bahan penyembuh bagi setiap penyakit kecuali mati". (HR Al-Bukhari)

khasiat Habbatusauda:

Satu ulasan ilmu kedoktoran serta perubatan menampilkan bahwa Habbatussauda mengandungi lebih dari 100 unsur penting yang diperlukan untuk kesihatan manusia antara lain :


1.Anti inflamasi, mengubati perih dan radang
 
tenggorok..
2.Anti Artritic, mengubati reumatik.
3.Anti Analgesic, mengubati sakit gigi dan
 sakit kepala 
(migran).
4.Aktiviti hormon mengatur haid dan meningkatkan
 
aliran susu.
5.Antiseptic, mengubati bau mulut.
6.Antiphyretic, menurunkan demam
7.Antivirus, mengubati flu dan penyakit lain yang
 
disebabkan oleh virus (Thypus,DBD, Hepatitis,
 
HIV/AIDS, Flu Burung, dsb.)
8.Dematology, mengubati jerawat dan eksim.
9.Urinary tract, mengubati saluran kemih dan
 
batu ginjal.
10.Sistem kekebalan, meningkatkan daya tahan tubuh
(antibody) untuk menangkal penyakit.
11.Gastro intestinal tract, mengubati mabuk, diare,
kejang, konstipasi dan hempedu.
12.Mengubati penyakit asam lambung (maag).
13.Sistem sirkulasi, meningkatkan kerja jantung.
14.Nematocidal, membasmi cacing pita.
15.Respiratory tract, mengubati sesak nafas (asma).


Dan menurut pengalaman para pengguna yang secara rutin mengunakanamalan ubat  Habbatussauda khasiatnya juga antara lain mengubati darah tinggi, gula darah, darah rendah, diabetes, paru-paru,
 sakit dada yang kronis, kanker dan tumor, menyegarkan tubuh yang lesu, mandul, keputihan, menstabilkan hormon endocrine yang menguatkan syahwat, berbagai penyakit kulit gastrik, melancarkan pencernaan, mengatasi stress, payah tidur (insomnia), menurunkan kolestrol, stroke, lumpuh sebelah, luka di hati, pencegahan dan kimotripi kanker dan tumor, TBC asam urat, batuk menyegarkan dan meneutralkan halusinasi pengaruh ubat-ubatan, menghancurkan lemak yang berlebihan, menghaluskan dan menegangkan kulit, baik untuk wanita selepas bersalin ataupun mencegah infeksi sebelum dan sesudah bersalin, menegangkan otot-otot yang kendur dari dalam, pra-monopause, jantung, bengkak-bengkak, mencegah pendarahan, sakit menjelang dan waktu haid, pegal-pegal, neurosis (sakit jiwa ringan), anemia, epilepsi, dan bawasir.

Hari ini kita lihat macam-macam produk dari hasil tumbuhan ini di keluarkan, selain ubat-ubatan terdapat juga minyak-minyak dan sabun pelebagai kegunaan yang telah terhasil dari ramuan Habbatussauda ini.

 Habbatussauda
Wallahu'alam Selamat mencuba.

Friday, December 3, 2010

Kepentingan menjaga Solat (ULANGAN)

Khutbah Juma'at Hari ini 3 Nov 2010 bertajuk Manusia ciptaan Allah yang sempurna.
Khatib yang membaca Khutbah ialah Bilal 1




Solat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya.

Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: 1. Islam, 2. Berakal, 3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 4. Menghilangkan hadats, 5. Menghilangkan najis, 6. Menutup aurat, 7. Masuknya waktu, 8. Menghadap kiblat, 
Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat.
Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka solat tidak ada (tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya solat (belum memastikan sahnya solat, kerana masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat solat di sini ialah syarat-syarat sahnya solat tersebut. 


Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Solat 

1. Islam
 
Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal." (At-Taubah:17)
 
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (Al-Furqan:23)
 
Solat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Aali 'Imraan:85)
 
2. Berakal
 
Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah,
 

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه) 
"Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
 
3. Tamyiz
 
Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
 

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَاْلإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ)
 
"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing." (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
 
4. Menghilangkan Hadas (Thaharah)
 
Hadas ada dua: hadas akbar (hadas besar) seperti janabah dan haidh, dihilangkan dengan mandi ( mandi janabah), dan hadas ashghar (hadas kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
 
"Allah tidak akan menerima solat tanpa bersuci." (HR. Muslim dan selainnya)
 
Dan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`." (Muttafaqun 'alaih)
 
5. Menghilangkan Najis
 
Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Dan pakaianmu, maka sucikanlah." (Al-Muddatstsir:4)
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 

تَنَزَّهُوْا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ. 

"Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya."
 
6. Menutup Aurat
 
Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah tidak akan menerima solat wanita yang telah haid ( yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah)." (HR. Abu Dawud)
 
Para ulama sepakat atas batalnya orang yang solat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.
 
Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadis Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu 'anhu, "Kancinglah ia (baju) walau dengan duri."
 
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid." (Al-A'raaf:31)  tatkala solat.
 
7. Masuk Waktu
 
Dalil dari As-Sunnah ialah hadis Jibril 'alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: "Wahai Muhammad, soalat itu antara dua waktu ini."
 
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Sesungguhnya soalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa`:103)
 
Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah 'azza wa jalla, "Dirikanlah solat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (Al-Israa`:78)
 
8. Menghadap Kiblat
 
Dalilnya firman Allah, "Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya." (Al-Baqarah:144)
 
 


Rukun-Rukun Solat 

Rukun-rukun solat ada empat belas: 1.Niat 2. Berdiri bagi yang mampu, 3. Takbiiratul-Ihraam, 4. Membaca Al-Fatihah, 5. Ruku', 6. I'tidal setelah ruku', 7. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh,  8. Duduk di antara dua sujud, 9. Thuma'ninah (Tenang) dalam semua amalan, 10. Tertib rukun-rukunnya, 11. MembacaTasyahhud Akhir, 12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir, 13. Selawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 14. Salam dua kali. 
1. Niat 
Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid'ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, "Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya." (Muttafaqun 'alaih dari 'Umar Ibnul Khaththab) . Empat Belas Rukun Solat 

2. Berdiri tegak pada solat fardhu bagi yang mampu
 
Dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Jagalah solat-solat  dan solat wustha (shalat 'Ashar), serta berdirilah untuk Allah 'azza wa jalla dengan khusyu'." (Al-Baqarah:238)
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Solatlah dengan berdiri..." (HR. Al-Bukhary)
 
3. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: 'Allahu Akbar', tidak boleh dengan ucapan lain
 
Dalilnya hadis, "Pembukaan (dimulainya) solat dengan takbir dan penutupnya dengan salam." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
 
Juga hadis tentang orang yang salah shalatnya, "Jika kamu telah berdiri untuk soalat maka bertakbirlah." (Idem)
 
4. Membaca Al-Fatihah
 
Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka'at, sebagaimana dalam hadis,
 

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
 
"Tidak ada solat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah." (Muttafaqun 'alaih)
 
5. Ruku'
 
6. I'tidal (Berdiri tegak) setelah ruku'
 
7. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
 

8. Duduk di antara dua sujud
 
Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah 'azza wa jalla, "Wahai orang-orang yang beriman ruku'lah dan sujudlah." (Al-Hajj:77)
 
Sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi." (Muttafaqun 'alaih)
 
9. Thuma'ninah dalam semua amalan
 
10. Tertib antara tiap rukun
 
Dalil rukun-rukun ini adalah hadis musii` (orang yang salah shalatnya),
 
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu!t Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: 'Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: 'Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku'lah hingga kamu tenang dalam ruku', lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
 
11.Membaca Tasyahhud Akhir
 
Tasyahhud akhir termasuk rukun solat sesuai hadis dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: 'Assalaamu 'alallaahi min 'ibaadih, assalaamu 'alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah 'azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril 'alaihis salam dan Mikail 'alaihis salam)', maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 
"Jangan kalian mengatakan, 'Assalaamu 'alallaahi min 'ibaadih (Keselamatan atas Allah 'azza wa jalla dari para hamba-Nya)', sebab sesungguhnya Allah 'azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, 'Segala penghormatan bagi Allah, selawat, dan kebaikan', ..." Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hadis keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang soalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.
 
12. Duduk Tasyahhud Akhir
 
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seseorang dari kalian duduk dalam solat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat." (Muttafaqun 'alaih)
 
13. Selawat atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
 
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seseorang dari kalian solat... (hingga ucapannya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia berselawat atas Nabi."
 
Pada lafazh yang lain, "Hendaklah ia berselawat atas Nabi lalu berdoa." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
 
14. Dua Kali Salam
 
Sesuai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "... dan penutupnya (solat) ialah salam."
 

Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun solat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan solat karena kalau meninggalkan salah satu rukun solat baik dengan sengaja atau pun lupa maka solatnya batal, harus diulang dari awal.





Perkara Yang Membatalkan Sembahyang
 




Ertinya tidak Sah Sembahyang serta terbatal jika perlakuan ini dan perlu dibuat semula, yang membatalkan sembahyang ialah:- 



Batal Wuduk.
Makan dan Minum dengan sengaja walaupun seteguk air atau sebiji nasi sekalipun (sisa makanan di dalam mulut).
Terbuka Aurat.
Melangkah, tiga langkah berturut-turut.
Terdapat najis di badan , pakaian atau tempat sembahyang.
Tertawa Terbahak-bahak.
Bercakap, berkata-kata dengan sengaja.
Berubah Niat.
Mendahulu Imam sampai dua rukun.
Meninggalkan rukun Sembahyang.





 Wallaahu A'lam.

Thursday, December 2, 2010

Hadis dho’if (lemah)

Hadis dho’if (lemah), apa lagi hadis palsu, tidak boleh dijadikan dalil, dan hujjah dalam menetapkan suatu aqidah, dan hukum syar’i di dalam Islam. Demikian pula, tidak boleh diyakini hadis tersebut sebagai sabda Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-

Di antara hadis-hadis dho’if ,‘lemah’, hadis yang masyhur digunakan oleh para khatib, dan da'i dalam mendorong manusia untuk menuntut ilmu dimana pun tempatnya, sekalipun jauhnya sampai ke negeri Tirai Bambu iaitu negara Cina.. Namun sayangnya para khatib, dan da’i kita kurang mengambil berat dalam mengetahui derajat hadis ini. Akhirnya, berdusta atas nama Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-.

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik -radhiyallahu 'anhu- dari Nabi -Shallallahu 'alaihi wasallam-, beliau bersabda,

اطلبوا العلم ولو بالصين
“Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri Cina”. [HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur Al-Hasan bin ‘Athiyah, ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah menceritakan kami dari Anas secara marfu’]

Ini adalah hadis dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadis menghukuminya sebagai hadis batil, tidak ada asalnya. Ibnul Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu Hibban berkata, hadis ini batil, tidak ada asalnya’’. Oleh karena ini, Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menilai hadis ini sebagai hadis batil dan lemah dalam Adh-Dhaifah (416).

As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadis ini, barangkali  menguatkan hadis di atas. Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadis di atas, bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, iaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy. Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadis, iaitu Al-Juwaibariy. Ringkasnya, hadis ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan tidak diyakini sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.



Antara-nya hadis yang dho'if

Hadis Lemah

Syahidah Seorang Muslimah

 sedih!, bukan karena kematian Michael Jackson yang dipuja jutaan orang di dunia.. Tapi kita sedih, karena pada saat yang sama, berlangsung perkebumian  seorang muslimah yang Insya Allah menjadi seorang syahidah kerana mempertahankan jilbabnya. Marwa Al-Sharbini, seorang ibu satu anak yang sedang mengandung tiga bulan, syahid akibat ditikam sebanyak 18 kali oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia yang anti-Islam dan anti-Muslim. Tapi berita ini, sama sekali tidak kita lihat di tv negara kita , negara yang majaroti penduduknya Muslim, bahkan mungkin, tak banyak dari kita yang tahu akan peristiwa yang menimpa Marwa Al-Sharbini.
Ribuan orang di Mesir yang mengantar jenazah Marwa Al-Sharbini ke tempat istirihatnya yang terakhir, memang mungkin ramai orang yang menangisi kepergian Michael Jackson. Marwa hanya seorang ibu dan bukan superstar seperti MJ. Teapi pemergian Marwa Al-Sharbini adalah lambang jihad seorang muslim.. Marwa Al- Sharbini mempertahankan harga dirinya sebagai seorang Muslimah yang mematuhi ajaran agamanya meski pun untuk itu ia kehilangan nyawanya.

Marwa Al-Sharbini ditikam di ruang sidang kota Dresden , Jerman saat akan memberikan kesaksian atas ancaman terhadapnya . Ia mengadukan sorang pemuda Jerman bernama Alex W yang kerap menyebutnya “teroris” hanya kerana ia mengenakan jilbab. Dalam suatu kesempatan, pemuda itu bahkan pernah menyerang Marwa dan berusaha melepas jilbab Muslimah asal Mesir itu. Di persidangan itulah, Alex kembali menyerang Marwa, kali ini ia menikam Marwa Al-Sharbini berkali-kali. Suami Marwa yang berusaha melindungi isterinya, malah terkena tembakan pehak berkuasa keamanan pengadilan yang berdalih tak sengaja menembak suami Marwa yang kini dalam agaki kritikal di hospital Dresden . 
 
Peristiwa ini sepi dari lapuran di media massa Jerman dan mungkin dari berita media masa asing dunia, kerana yang menjadi korban adalah seorang muslimah yang dibunuh oleh orang Barat yang anti-Islam dan anti-Muslim. Situasi ini mungkin akan berbeza jika yang menjadi korban adalah satu orang Jerman atau orang Barat yang dibunuh oleh seorang ektrimis Islam. Kalaulah yang mati itu orang Barat yang dibunuh oleh orang Islam, berita tersebut dipastikan akan gempar ke pelusuk dunia.

Itulah sebabnya, mengapa di tv-tv kita cuma sebuk dengan pemberitaan pemakaman Michael Jackson yang mengharu biru itu. Tak ada berita pemakaman Syahidah Marwa Al-Sharbini yang mendapat sebutan “Pahlawan Jilbab”. Tak ada protes dunia Islam atas kematiannya. Tak ada tangisan kaum muslimin dunia untuknya. Tapi tak mengapa Marwa Al-Sharbini , kerana engkau akan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisiNya ALLAH SWT .. Seiring doa dari orang-orang yang mencintaimu. 

Selamat jalan saudariku, maafkan kami jika kurang peduli … 

" (Iaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.  Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir ". 
(QS: Qaaf : 17/18)
---------------------------------------
"Dan senantiasa seorang hamba mendekat kepada ku dengan amalan Sunnah sehingga Aku mencintainya." (HR Bukhari)
---------------------------------------
"Ya Allah, Rahmat-Mu aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan (urusan) ku kepada diriku walau sekelep mata, perbaikilah semua urusanku, tiada Allah selain Engkau." (HR Abu Daud dgn sanad yg sohih)
====================