Mati Hati dan doa Kosong - ungkapan dari salaf yang
Hal ini melaporkan bahawa Ibrahim b. Adham (d162H) - Allâh kasihanilah dia - sekali melewati pasar Basrah. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya dan bertanya:
Wahai Abu Ishaq, Allah Ta'ala mengatakan dalam Kitab. 'Panggil aku, aku akan menjawab doa-doa anda, tetapi kami telah menyeru kepada-Nya untuk masa yang lama dan Ia tidak menjawab doa-doa kita. [Ibrahim] menjawab, "Wahai orang Basrah, hati anda telah meninggal sehubungan dengan hal-hal sepuluh:
Pertama, anda tahu Allâh tetapi anda tidak memberi-Nya hak-Nya;
Kedua, anda telah membaca Arahan Allâh tapi anda tidak bertindak dengan itu;
Ketiga, anda mendakwa mencintai Allâh's Messenger - damai dan berkat Allâh saw - tetapi anda meninggalkan Sunnah-Nya;
Keempat, anda mengaku menjadi musuh kepada Setan tetapi anda sesuai dengan [cara nya];
Kelima, anda berkata anda mencintai syurga tetapi anda tidak bekerja untuk itu;
Keenam, kamu bilang kamu takut api neraka tetapi anda meletakkan diri lebih dekat untuk itu [dengan berbuat dosa];
Ketujuh, anda katakan kematian itu adalah benar, tetapi anda tidak mempersiapkan diri untuk itu;
Kelapan, anda dirimu sibuk dengan kesalahan orang lain dan mengabaikan anda sendiri;
Kesembilan, anda mengambil nikmat Tuhanmu tetapi tidak berterima kasih untuk mereka, dan
Kesepuluh, anda menanam mati anda, tetapi tidak mengambil pelajaran dari mereka. "
Thursday, May 5, 2011
Wednesday, April 27, 2011
Malam ini balik ke Kluang insya Allah. sebelum berangkat, saya melayari laman-laman web untuk membaca tulisan yang dipaparkan. antaranya
Penutup Kitab Min Ushul Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah
http://akidah-yang-benar-1.blogspot.com/
Dengar radio Islam online....sila klik sini
Semoga bermanfaat.
*************************************************
Rasulullah Saw. bersabda;
"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
*************************************************
Pada Hari Jumaat hari Arafah, diturunkan kepada Nabi Saw. Firman Allah Ta'ala;
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu." (QS.al-Ma'idah:3)
Penutup Kitab Min Ushul Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah
http://akidah-yang-benar-1.blogspot.com/
Dengar radio Islam online....sila klik sini
Semoga bermanfaat.
*************************************************
Rasulullah Saw. bersabda;
"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
*************************************************
Pada Hari Jumaat hari Arafah, diturunkan kepada Nabi Saw. Firman Allah Ta'ala;
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu." (QS.al-Ma'idah:3)
Tuesday, April 26, 2011
UKHUWWAH YANG TERKOYAK
Tidak diragukan lagi bahwa kita tengah berada di suatu zaman di mana nilai-nilai ukhuwwah (persaudaraan) yang dibangun karena Allah mulai pudar. Orang-orang tidak saling berhubungan melainkan karena pertimbangan materi belaka. Mereka saling mencintai dan membenci karena dunia. Tidaklah salah seorang dari mereka mendekati yang lain dengan wajah yang manis kecuali karena ada maunya. Tatkala kepentingan itu tidak tercapai, maka senyuman pun berubah menjadi raut masam.
Hal ini bukanlah termasuk gaya hidup as-Salafus Shalih. Mereka sungguh jauh dari model hidup seperti ini. Tidaklah mereka mencintai dan bersahabat dengan seseorang melainkan karena Allah.
Rasūlullâh Shallâllâhu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
لاَتَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوْا
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan tidaklah kalian beriman sampai kalian saling mencintai…”
[HR Muslim (54), Abu Dawud (5193), dan at-Tirmidzi (2689)]
Kita sama-sama mengetahui bahwa defininsi ibadah adalah sebuah nama yang mencakup semua perkara yang yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun batin. Diantara perkataan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah menunaikan hak-hak ukhuwwah. Hak seorang muslim atas saudaranya yang lain. Terlebih lagi jika keduanya adalah sahabat karib. Bukan hanya sekedar saudara sesama muslim. Mereka bertemu dan berpisah karena Allah, sama-sama berjalan di atas ketaatan kepada Allah, saling tolong menolong dalam kebaikan, sehingga semakin kuatlah hak-hak ukhuwwah yang ada diantara keduanya. Hak-hak ini hendaknya tetap diperhatikan oleh setiap muslim, baik tua, muda, lelaki, maupun wanita.
Sungguh, Allah benar-benar telah memberi kenikmatan kepada kaum muslimin dengan menjadikan mereka bersaudara. Allah berfirman:
فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ
“Lalu menjadilah kalian karena nikmat Allôh orang-orang yang bersaudara, dan kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allôh menyelamatkan kalian darinya.” (Âli ‘Imrân: 103)
Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan nikmat yang telah Ia berikan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu menyatukan hati-hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara. Hal ini menunjukkan bahwa nikmat yang sangat agung ini, yaitu ukhuwwah, semestinya hanya dilandasi karena Allah semata.
Seorang muslim harus menyadari bahwa persaudaraan dan rasa cinta diantara sesama kaum mukminin yang dilandasi karena Allah merupakan suatu nimat yang sangat agung dari Allah. Maka hendaknya senantiasa dijaga dan dipelihara.
Dalam menafsirkan firman Allah: بِنِعْمَتِهِ (karena nikmat-Nya), sebagian ulama berkata, “Ini adalah peringatan bahwasanya terjalinnya tali persaudaraan dan terjalinnya cinta kasih diantara kaum mukminin hanyalah disebabkan karunia Allah semata, sebagaimana dijelaskan dalam ayat yang lain:
﴿لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْت بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ﴾
"Walaupun engkau membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi niscaya engkau tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah-lah yang telah mempersatukan hati mereka” (Al-Anfal: 63)
Maka yang menjadikan hati-hati manusia bersatu dalam ibadah kepada Allah, sekaligus saling mencintai, padahal mereka berasal dari berbagai penjuru dunia, dari ras yang beraneka ragam, serta dari martabat yang bertingkat-tingkat, hanyalah Allah semata, dengan nikmat-Nya yang tiada bandingnya. Ini adalah nikmat yang selayaknya seorang muslim bergembira dengannya. Allah berfirman:
﴿قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُوْنَ﴾
“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya’, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat Allah itu lebih baik dari yang mereka kumpulkan” (Yunus: 58)
‘Abdah bin Abî Lubâbah berkata: “Aku bertemu dengan Mujâhid. Lalu dia menjabat tanganku, seraya berkata: ‘Jika dua orang yang saling mencintai karena Allah bertemu, lalu salah satunya mengambil tangan kawannya sambil tersenyum kepadanya, maka gugurlah dosa-dosa mereka sebagaimana gugurnya dedaunan.”
‘Abdah melanjutkan: “Aku pun berkata: ‘Ini adalah perkara yang mudah.’ Mujahid lantas menegurku, seraya berkata: “Janganlah kau berkata demikian, karena Allah berfirman:
﴿لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِيْ الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْت بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ﴾
“Walaupun engkau membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi niscaya engkau tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allahlah yang telah mempersatukan hati mereka” (Al-Anfal: 63)
Akhirnya ‘Abdah berkata: “Maka aku pun mengakui bahwa dia memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan aku” [Tafsir Ath-Thabari (X/36) dan Hilyatul Auliyâ` (III/297). Diriwayatkan juga dari Abu Lubâbah, dari Mujâhid, dari Ibnu ‘Abbas, dari Rasūlullâh Shallâllâhuu ‘alaihi wa Sallam dengan sanad yang marfū’, dalam Târîkh Wâsith, pada biografi ‘Abdullâh bin Sufyân Al-Wâsithi (I/178), dengan kisah yang sama, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albânî karena syawâhid-nya. Lihat: as-Shahîhah (V/10) hadits (2004).]
Smg bermanfaat utk kebaikan di dunia & akhirat.
Bubur Asyura budaya Melayu yang tidak bercanggah dengan Islam
Ada orang Tanya, adakah bubur asyura itu ada dalam ajaran Islam? Secara mudahnya, bubur asyura adalah budaya Melayu yang tidak kaitan langsung dengan ajaran Islam. Tetapi membuat bubur asyura itu tidak bercanggah dengan ajaran Islam.
Sebenarnya bubur asyura diambil sempena haru asyura iaitu hari ke sepuluh Muharam. Menurut ajaran Islam, apabila tiba 10 Muharam, umat Islam disunatkan berpuasa. Bahkan umat lain juga berpuasa termasuk Yahudi dan Nasrani.
Sunat berpuasa pada 10 Muharam adalah kerana meraikan terselamatnya tokoh-tokoh silam dalam perjuangannya. Antaranya ialah nabi Noh dan pengikutnya terselamat daripada banjir besar. Nabi Musa selamat daripada gangguan Firaun dan banyak lagi.
Bagaimanapun ajaran Islam itu tidak diamalkan oleh umat Islam di Negara ini, sebaliknya mereka membuat bubur asyura untuk makan pula. Inilah yang tidak kena pada kefahaman orang Melayu.
Islam tidak melarang memasak bubur asyura dan membedakkan kepada penduduk kampung, malah kerja baiknya akan beroleh pahala pula. Tapi alangkah baiknya jika mereka memasak bubur asyura itu dalam keadaan berpuasa. Sama seperti mereka mengacau dodol dalambulan puasa.
Mereka berpuasa dapat pahala sunat Asyura dan berbuka puasa dengan bubur asyura, dapat lagi pahala di sini. Inilah budaya baru yang seharusnya dilakukan oleh orang Melayu tentang bubur asyura itu.
Lahirnya bubur asyura itu konon mengikut kisah nabi noh dan pengikutnya meraikan kemenangan mereka dengan mengumpulkan segala saki baki makanan yang mereka bekalkan sebelum bertolak. Kemudian mereka masak bersama dan makan ala kadar. Betul atau tidak kisah itu bukan persoalannya, tapi yang pasti ia sudah menjadi adat dan budaya orang Melayu.
Friday, April 22, 2011
Tinggallah kenangan
Lama tidak mengemaskinikan blog ini disebabkan beberapa perkara yang tidak dapat dielakkan.Tumpuan kepada kerja harian, pantasnya masa tidak dapat ku kejar ditambah pula kini aku berpindah ke kawasan yang agak jauh dari mukim ini.
Jangkaan ku akan berpindah balik ke tempat asalku iaitu Scudai Johor Bahru. Sejak awal Januari desas desus mengatakan berlaku perpindahan ke JB. Persiapan sedikit-sedikit dilakukan untuk balik ke JB bagi memudahkan kerja-kerja ku, rupa-rupanya apa yang dijangkakan jauh tersasar dari apa yang diduga.
Perpindahan bermula 1hb April 2011 itu yang dimaklumkan.Kini aku menetap di tempat yang agak baru dalam hidupku iaitu antara 1 jam lebih perjalanan dari Johor Bahru.
Semua jawatan yang aku pegang telah aku lepaskan memandangkan aku kini tidak lagi menetap secara tetap di kawasan Segamat Aku melepaskan jawatanku sebagai AJK masjid dan jawatan Setiausaha Biro Pengimarahan Masjid.Jawatan sebagai Pegawai Masjid dimana aku di antara imam yang sering bertugas menggantikan Imam 1. Aku berpindah ke satu kawasan yang tidak pernah aku fikirkan.Perpindahan secara berperingkat aku lakukan dan rasanya tidak perlu tergesa-gesa. Aku punya perniagaan di Segamat, aku rasa biarlah ianya diteruskan oleh pembantu yang telah sedia ada.
Hari terakhir aku membaca Khutbah di mimbar jumaat 15hb April 2011 bertajuk "Peranan masjid' moga-moga apa yang aku sampaikan itu merupakan satu nasihat kepada diri ini dan untuk hadirin jumaat pada hari itu akan kekal tersemat di hati mereka..insya Allah. Hari-hari mendatang imbasan silam akan menjelma lebih-lebih lagi bila bulan puasa pastinya, solat teraweh, tadarus, takbir hari raya dimana aku diantara pegawai masjid yang mengepalainya.Moga-moga pengganti yang dilantik mengganti tempat ku nanti pastinya lebih berilmu dan tinggi ketakwaannya serta istemewa dari diri ini yang serba kekurangan dan masih memerlukan tunjuk ajar dari mereka yang berilmu.
Kenangan manis sepanjang di Segamat dapat mengkhatamkan bacaan Al-Quran secara bertalqi dengan mementingkan bacaan secara bertajwid. Kalangan pelajar di antaranya telah menjadi guru Quran di kawasan-kawasan mereka. Di kalangan mereka juga ada yang meneruskan pengajian Quraan di Institusi yang lebih tinggi untuk hafazan dan ilmu soraff (bahasa Quraan).
Agak terkilan terpaksa menyerahkan pelajar( anak sahabat saya Lect UiTM) yang belum tamat bacaan kepada guru Quraan yang lain , iaitu ibu saudara saya (tauliah mengajar Pj Agama Sgmt). Harapan saya apa yang dipelajari dapat dimunafatkan kepada masyarakat setempat dan beroleh keberkatan dari Ilahi.
Jangkaan ku akan berpindah balik ke tempat asalku iaitu Scudai Johor Bahru. Sejak awal Januari desas desus mengatakan berlaku perpindahan ke JB. Persiapan sedikit-sedikit dilakukan untuk balik ke JB bagi memudahkan kerja-kerja ku, rupa-rupanya apa yang dijangkakan jauh tersasar dari apa yang diduga.
Perpindahan bermula 1hb April 2011 itu yang dimaklumkan.Kini aku menetap di tempat yang agak baru dalam hidupku iaitu antara 1 jam lebih perjalanan dari Johor Bahru.
Semua jawatan yang aku pegang telah aku lepaskan memandangkan aku kini tidak lagi menetap secara tetap di kawasan Segamat Aku melepaskan jawatanku sebagai AJK masjid dan jawatan Setiausaha Biro Pengimarahan Masjid.Jawatan sebagai Pegawai Masjid dimana aku di antara imam yang sering bertugas menggantikan Imam 1. Aku berpindah ke satu kawasan yang tidak pernah aku fikirkan.Perpindahan secara berperingkat aku lakukan dan rasanya tidak perlu tergesa-gesa. Aku punya perniagaan di Segamat, aku rasa biarlah ianya diteruskan oleh pembantu yang telah sedia ada.
Hari terakhir aku membaca Khutbah di mimbar jumaat 15hb April 2011 bertajuk "Peranan masjid' moga-moga apa yang aku sampaikan itu merupakan satu nasihat kepada diri ini dan untuk hadirin jumaat pada hari itu akan kekal tersemat di hati mereka..insya Allah. Hari-hari mendatang imbasan silam akan menjelma lebih-lebih lagi bila bulan puasa pastinya, solat teraweh, tadarus, takbir hari raya dimana aku diantara pegawai masjid yang mengepalainya.Moga-moga pengganti yang dilantik mengganti tempat ku nanti pastinya lebih berilmu dan tinggi ketakwaannya serta istemewa dari diri ini yang serba kekurangan dan masih memerlukan tunjuk ajar dari mereka yang berilmu.
Kenangan manis sepanjang di Segamat dapat mengkhatamkan bacaan Al-Quran secara bertalqi dengan mementingkan bacaan secara bertajwid. Kalangan pelajar di antaranya telah menjadi guru Quran di kawasan-kawasan mereka. Di kalangan mereka juga ada yang meneruskan pengajian Quraan di Institusi yang lebih tinggi untuk hafazan dan ilmu soraff (bahasa Quraan).
Agak terkilan terpaksa menyerahkan pelajar( anak sahabat saya Lect UiTM) yang belum tamat bacaan kepada guru Quraan yang lain , iaitu ibu saudara saya (tauliah mengajar Pj Agama Sgmt). Harapan saya apa yang dipelajari dapat dimunafatkan kepada masyarakat setempat dan beroleh keberkatan dari Ilahi.
Thursday, February 17, 2011
MAULID NABI
Maulid Nabi, Sunnah ker? biar betul?
Maulid sunnah? apa maksud Sunnah?
Sunnah dengan makna setiap yang datang dalam Al-Qur’an dan Hadits maka ia adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu adalah jalan yang dilalui oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Tentang hal ini, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فمَن رغب عن سنَّتي فليس منِّي
Artinya: “Barang siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukanlah termasuk umatku.” (HR. Bukhari [5063] dan Muslim [1401])
Sunnah dengan makna hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu segala hal yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan atau sifat (baik fisik/moral), ketetapan dan perjalanan Nabi baik sebelum atau sesudah menjadi Nabi. Penggunaan ini dimaknai demikian ketika kata “sunnah” disebutkan bersamaan dengan kata “Al-Qur’an”. Dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang kamu tidak sekali-kali akan sesat selagi kamu berpegang teguh kepada keduanya: iaitu Kitab Allah dan sunnah Rasulullah s.a.w. ” (Al-Imam Malik)
Diriwayatkan dari 'Umar radiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لا تطروني كما أطرت النصارى ابن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا: عبد الله ورسوله
"Janganlah kamu berlebih-lebihan memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani telah telah berlebih-lebihan memuji Isa putra maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah " Hamba dan Rasul Allah" (HR. Bukhari dan Muslim)
Para sarjana sejarahwan Islam berbeza pendapat tentang tarikh sebenar kelahiran Nabi s.a.w. Hadis Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim hanya menyebut bahawa baginda lahir pada hari Isnin tanpa menyebut haribulannya. Sesiapa yang membaca karya-karya sejarah Islam yang besar seperti al-Bidayah wa al-Nihayah oleh al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H) akan melihat berbagai pendapat tentang haribulan dan bulan kelahiran baginda s.a.w.
Bagi yang berpendapat baginda lahir pada Bulan Rabi’ul Awwal, mereka berbeza pendapat pula dalam menentukan haribulannya. Ada yang menentukan pada 8 haribulan, ada yang pada 9 haribulan, ada pula pada 12 haribulan seperti yang menjadi anggapan ramai, ada juga pada 17 haribulan dan seumpamanya. Di samping di sana ada pula sarjana Islam yang menyatakan baginda lahir pada Bulan Ramadan dengan hujah-hujah mereka yang tersendiri.
Apa pun yang penting, sejarahwan Timur atau Barat, Utara atau Selatan tidak pernah berbelah pendapat tentang lahirnya seorang insan bernama Muhammad bin ‘Abdillah yang diikrarkan oleh umat Islam sebagai rasul terakhir yang diutuskan Allah. Hal ini berbeza dengan Jesus yang berada dalam gambaran Barat. Setengah ahli kajian mereka mempertikaikan tentang kelahiran Jesus itu sendiri.
Kelahiran Nabi s.a.w adalah peristiwa yang amat penting kerana ia peristiwa yang memulakan episod baru bagi kehidupan manusia sejagat. Penentuan haribulan atau bulan secara tepat bukanlah faktor utama. Tidak dapat menentukan tarikh lahir yang pasti, bukan bererti seseorang itu tidak wujud. Entah berapa ramai para nabi, tokoh, individu yang gagal dikesan tarikh kelahiran mereka, tetapi mereka wujud dan telah mewarnai sejarah.
Kegagalan sarjana untuk mengetahui hari dan bulan sebenar kelahiran Nabi s.a.w antaranya
berpunca daripada tindakan para sahabah Nabi s.a.w yang tidak merayakan tarikh tersebut. Walaupun dalam sejarah Islam, merekalah generasi yang paling mencintai Nabi s.a.w namun mereka tidak membuat perayaan khas hari kelahiran baginda disebabkan kerana mereka tidak melihat baginda melakukan hal yang demikian.
Bahkan Ibn Kathir menceritakan bagaimana Saidina ‘Umar apabila dicadangkan permulaan tahun Islam dikira pada tahun kelahiran Nabi s.a.w, beliau menolaknya. Sebaliknya khalifah agung itu memilih tahun hijrah baginda sebagai permulaan kiraan. Bukan kelahiran tidak penting, tetapi hijrah adalah permulaan kejayaan dan sejarah perjuangan. Perkara yang paling utama buat seorang rasul ialah baginda diikuti, bukan sekadar dirayakan. Saban tahun orang Kristian Barat merayakan kelahiran Jesus, namun apakah kehidupan mereka sama seperti yang diajar oleh Jesus?
Ramai pengkaji yang menyatakan bahawa tarikh sebenar maulid baginda ialah pada 9 Rabi’ul Awwal. Antara yang berpegang dengan tarikh ini al-Syeikh Safiyy al-Rahman al-Muabarakfuri iaitu penulis kitab Sirah terkenal Rahiq al-Makhtum. Di samping di sana ada beberapa tarikh lain yang disebut oleh pengkaji sejarah yang lain. Kegagalan untuk memberikan tarikh yang disepakati itu antaranya berpunca dari para sahabah, tabi’in dan tabi al-tabi’in atau disebut generasi salafus soleh tidak merayakan Maulid Nabi s.a.w.
Al-Imam Ibn Kathir (meninggal 774H) mencatatkan bahawa cadangan agar tarikh Maulid Nabi s.a.w dijadikan tarikh kiraan tahun Islam pernah dibuat kepada ‘Umar bin al-Khattab. Namun beliau tidak menerimanya.
Kata seorang pengkaji Sirah yang juga merupakan tokoh politik dan Ahli Parlimen Jordan, Dr Muhammad ‘Abd al-Qadir Abu Faris:
“Pada pendapat kami –Allah lebih mengetahui-, hikmah di sebalik penolakan Umar itu kerana beliau mempelajari dari Rasulullah s.a.w agar kita berbeza dengan Yahudi dan Kristian. Orang Kristian menentukan tarikh berdasarkan kelahiran Nabi Isa bin Maryam a.s. Mereka berlebihan dalam memuji dan membesarkan baginda sehingga sampai ke peringkat ketuhanan. Mereka kata: dia anak Allah, kadangkala “dia Allah” dan dia satu dari yang tiga.
Tujuan ‘Umar itu agar orang Islam tidak terjatuh seperti Kristian dalam berlebihan membesarkan Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w sendiri telah memberi amaran agar tidak berlebih-lebihan dalam memuji baginda. Sabda baginda:
“Jangan kamu memujiku berlebihan seperti Kristian berlebihan memuji Isa bin Maryam. Aku hanya seorang hamba Allah. Katakanlah: “Hamba Allah dan rasulNya” (al-Bukhari).
Maka Umar tidak menjadikan maulid Nabi s.a.w sebagai permulaan kalendar Islam untuk mengelakkan generasi kemudian menyeleweng” (Abu Faris, al-Hijrah al-Nabawiyyah, m.s 16, Jordan: Dar al-Furqan).
Inilah ulasan Dr Abu Faris dan pendapat ini dikongsi oleh ramai pengkaji yang lain.
Tanpa syak umat Islam berbangga dengan kedatangan Nabi s.a.w. Kelahiran yang membawa kebahagiaan dan rahmat kepada dunia sejagat. Cumanya, dalam proses mengelakkan persamaan di peringkat itu mereka tidak mengadakan sebarang perayaan khas. Bukan bererti mereka tidak menghargai. Sebaliknya generasi Salafussoleh merupakan zaman yang paling menghormati, mengikuti dan menghargai Nabi s.a.w.
Mereka terjemahkan itu semua dalam tindakan dan perbuatan mereka. Mereka mengamalkan sunnah baginda dan menegakkan prinsip-prinsip kebenaran yang ditegakkan oleh baginda. Hakikatnya, mereka merayakan pengutusan Nabi s.a.w sebagai rasul sepanjang hayat mereka. Namun apabila muncul zaman Kerajaan Syiah Fatimiyyah di Mesir, perayaan Maulid Nabi s.a.w secara besar-besaran diadakan. Sebab itu dalam Fatawa al-Azhar diakui bahawa ahli sejarahwan Islam tidak mengetahui sesiapa pun yang memulakan perayaan Maulid Nabi s.a.w melainkan Kerajaan Syi’ah Fatimiyyah di Mesir yang mengadakannya secara besar-besaran. Mereka turut meraikan hari kelahiran tokoh-tokoh Ahlil Bait dan kelahiran Nabi Isa a.s.
Kemudian pada tahun 488H dihentikan oleh Khalifah mereka al-Musta’la billah. Kemudian ia dihidupkan oleh beberapa pemerintah yang lain. Para ulama pula berbeza pendapat tentang hal ini. Ada yang membantah habis-habisan. Ada pula yang mengizinkan dengan bersyarat tidak mengadakan sebarang ibadah baru sempena Maulid, iaitu seperti solat Maulid, atau puasa maulid, atau seumpamanya. Sudah pasti mengingati maulid dengan mempelajari Sirah baginda, berdiskusi mengenainya dan mengingatkan tentang kepentingan menghayati perjuangan baginda, tidaklah salah.
Adapun Kerajaan Fatimiyyah, mereka mempunyai agenda politik yang tersendiri. Mereka ingin berkempen kepada kekuatan aliran syiah mereka. Beberapa pemimpin sunni kemudiannya mengadakannya juga atas berbagai tujuan yang lain. Ia berlangsungan dalam kebanyakan negara sehingga dibawa ke negara kita ini.
Hari berganti dan bertukar. Dunia Islam beralun dengan berbagai krisis politik yang akhirnya mencetuskan mazhab. Antaranya Mazhab Syiah yang asalnya merupakan mazhab politik, bertukar menjadi mazhab agama dengan segala macam aliran di dalamnya. Islam sepatutnya mencorakkan politik telah bertukar menjadi ‘politik mencorakkan Islam’. Lalu kefahaman agama dibina di atas blok-blok politik, bukan reka fikir politik itu diwarnakan oleh Islam. Maka perebutan kuasa berlaku atas agenda politik yang dimasukkan unsur Islam ke dalamnya. Maka berselerakanlah umat Islam akibat agenda politik berbagai aliran.
Di Mesir, Syiah Fatimiyyah pernah menguasai tampok kuasa. Berbagai agenda agama dilaksanakan dalam kerangka pemikiran mazhab politik yang bertukar menjadi agama. Berbagai perayaan agama dibuat dengan tujuan untuk mencapai matlamat politik yang tersendiri.
Dalam Fatawa al-Azhar diakui bahawa ahli sejarahwan Islam tidak mengetahui sesiapa pun yang memulakan perayaan Maulid Nabi s.a.w melainkan Kerajaan Syi’ah Fatimiyyah di Mesir yang mengadakannya secara besar-besaran. Mereka turut meraikan hari kelahiran tokoh-tokoh Ahlil Bait dan kelahiran Nabi Isa a.s. Kemudian pada tahun 488H dihentikan oleh Khalifah mereka al-Musta’la billah. Kemudian dihidupkan kembali oleh sesetengah kerajaan dan negeri. Demikianlah sejarahnya.
Ya, saya fikir, perasaan bersyukur mengenangkan sejarah kelahiran Nabi s.a.w dengan semangat untuk mengikuti baginda adalah wajar. Di samping kita perlu sedar fakta-fakta yang disebutkan tadi. Jika Bulan Rabi’ul Awwal ini dikatakan bulan kelahiran Nabi s.a.w, maka tidak salah untuk kita berceramah menceritakan sejarah perjuangan dan prinsip-prinsip Islam yang dibawa oleh baginda. Sama ada pada bulan ini atau selain. Sama seperti apabila kita melintas suatu tempat bersejarah, kita mengenang sejarah tersebut. Cuma janganlah kita ini menjadi manusia bermusim yang hanya mengenang rasul dan ajaran baginda pada hari-hari tertentu, tetapi kita seakan sudah tidak mengingati baginda selepas itu.
Di samping itu, hendaklah kita sedar, jika kita mengikuti Nabi s.a.w, maka pastikan kita tidak menokok tambah ajaran baginda apa yang baginda tidak izinkan. Baginda bersabda:
“Sesiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami ini (Islam) apa yang bukan daripadanya maka ia tertolak” (Riwayat Muslim).
Oleh kerana baginda tidak pernah menunjukkan kita ibadah khas sempena kelahiran baginda samada solat khas, atau puasa khas atau bacaan khas, maka kita tidak boleh mengadakannya. Jalan yang patut diikuti dalam masalah ini adalah jalan para sahabah baginda s.a.w. Sabda baginda s.a.w:
“..Sesungguhnya Bani Israil berpecah kepada 72 puak, dan umatku akan berpecah kepada 73 puak. Kesemua mereka dalam neraka kecuali satu puak”. Mereka bertanya: “Apakah puak itu wahai RasululLah?” Jawab baginda: “Apa yang aku dan para sahabahku berada di atasnya”. (Riwayat al-Tirmizi dinilai sahih oleh al-Diya al-Maqdisi).
Perlu diingat, antara keistimewanya sejarah Nabi s.a.w kerana ia dapat dikenal pasti antara yang tulen dan tokok tambah. Ini berbeza dengan sejarah pengasas-pengasas agama dalam dunia ini yang hampir keseluruhan sejarah mereka dibina atas sangkaan atau perkhabaran yang tidak pasti. Ilmu hadis yang menapis sanad dan matan telah memelihara fakta sejarah nabi kita Muhammad s.a.w. Hanya sejarah yang pasti sahaja yang menjadi ikutan kita, bukan yang direka.
Kata al-Sayyid Sulaiman al-Nadwi:
“Sesungguhnya sirah yang berhak diikuti oleh manusia sebagai contoh yang baik dan teladan yang tinggi disyaratkan terlebih dahulu mestilah bersifat tarikhiyyah (sejarah). Adapun sirah yang tertegak diatas dongengan dan cerita-cerita khurafat yang tidak disokong oleh riwayat-riwayat yang dipercayai kesahihannya, adalah menjadi tabiat insan tidak akan terpengaruh dengan apa yag diceritakan kepadanya tentang sirah peribadi yang direka sedangkan sejarah tidak pernah mengenalinya” (Sulaiman al-Nadwi, al-Risalah al-Muhammadiyyah, m.s. 41, Saudi: al-Dar al-Sa`udiyyah).
Buku Maulid al-Barzanji yang banyak dibaca dalam masyarakat kita ketika majlis kenduri-kendara atau selainnya mempunyai sumbangan yang tersendiri. Banyak sirah yang sahih dicatatkan oleh penulis karya tersebut iaitu Ja’far bin Hasan bin `Abd al-Karim al-Barzanji (meninggal 1187H). Namun satu hakikat yang diboleh dinafikan dari segi ilmu hadis bahawa terdapat fakta-fakta yang tidak sahih dalam buku al-Barzanji tersebut. Antaranya, beliau menyebut:
“Telah hadirlah pada malam kelahiran baginda (Nabi s.a.w.) Asiah (isteri Fir`aun yang beriman) dan Maryam (ibu Nabi Isa a.s.) dalam kumpulan wanita dari syurga)”.
Tiada satu riwayat yang sahih daripada Nabi s.a.w yang mengakui peristiwa seperti ini. Sehingga seorang pengkaji sejarah Muhammad Muhammad Hasan Syurrab menyebut:
“Wajib kita berhati-hati ketika memetik dari buku-buku sirah terutamanya buku-buku sirah yang terkemudian. Para rawinya (periwayat) banyak menokok tambah cerita dan sirah Rasulullah. Mereka mengaitkan kepada baginda mu’jizat dan perkara-perkara luar biasa sejak kelahiran sehingga kepada kewafatan baginda dengan perkara yang tidak ada sanad yang boleh dipegang. Seakan-akan para rawi ini melihat tujuan penambahan perkara-perkara luar biasa ini untuk memberikan kepada Rasul a.s. mu’jizat-mu’jizat yang tidak ada pada para nabi sebelum baginda (Muhammad Muhammad Hasan Syurrab, Fi Usul Tarikh al-`Arab al-Islami, m.s. 84, Damsyik, Dar al-Qalam).
Kita semua bersyukur dan bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Namun kita wajib pastikan cara kita ikut dan faham mengenai baginda. Saban tahun banyak pihak yang meraikan maulid, apakah umat Islam bertambah dekat dengan baginda?
"Ingatlah wahai umat Islam. Kita tidak disuruh menyambut kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Tiada dalil daripada al-Quran mahupun hadis untuk itu. Malah kelahiran Nabi s.a.w. tidak s.a.w. tidak disambut oleh para sahabat. Apa yang wajib ialah kita menjadi pengikut nabi Muhammad s.a.w. yang setia dan berpegang kepada ajarannya, beramal dengan sunnahnya dan mengikut sehingga hari kiamat."
"Orang seronok
dengan berarak, pakai kain songket, angkat sepanduk. Saya rimas tengok. Saya tak pernah
ikut sama berarak atas jalan.."
dengan berarak, pakai kain songket, angkat sepanduk. Saya rimas tengok. Saya tak pernah
ikut sama berarak atas jalan.."
Thursday, February 10, 2011
SYIRIK
| ||||
Subscribe to:
Posts (Atom)
