Friday, December 3, 2010

Kepentingan menjaga Solat (ULANGAN)

Khutbah Juma'at Hari ini 3 Nov 2010 bertajuk Manusia ciptaan Allah yang sempurna.
Khatib yang membaca Khutbah ialah Bilal 1
video




Solat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib padanya serta menghindari hal-hal yang akan membatalkannya.

Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: 1. Islam, 2. Berakal, 3. Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 4. Menghilangkan hadats, 5. Menghilangkan najis, 6. Menutup aurat, 7. Masuknya waktu, 8. Menghadap kiblat, 
Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat.
Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka solat tidak ada (tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya solat (belum memastikan sahnya solat, kerana masih harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang membatalkannya). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat solat di sini ialah syarat-syarat sahnya solat tersebut. 


Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Solat 

1. Islam
 
Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah mereka akan kekal." (At-Taubah:17)
 
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (Al-Furqan:23)
 
Solat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Aali 'Imraan:85)
 
2. Berakal
 
Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda Rasulullah,
 

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَالْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ، وَالصَّغِيْرِ حَتَّى يَبْلُغَ. (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَه) 
"Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak sampai ia baligh." (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).
 
3. Tamyiz
 
Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
 

مُرُوْا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلاَةِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ. (رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَاْلإِمَامُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُوْدَ)
 
"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing." (HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
 
4. Menghilangkan Hadas (Thaharah)
 
Hadas ada dua: hadas akbar (hadas besar) seperti janabah dan haidh, dihilangkan dengan mandi ( mandi janabah), dan hadas ashghar (hadas kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
 
"Allah tidak akan menerima solat tanpa bersuci." (HR. Muslim dan selainnya)
 
Dan sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia berwudlu`." (Muttafaqun 'alaih)
 
5. Menghilangkan Najis
 
Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Dan pakaianmu, maka sucikanlah." (Al-Muddatstsir:4)
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 

تَنَزَّهُوْا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ. 

"Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya."
 
6. Menutup Aurat
 
Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Allah tidak akan menerima solat wanita yang telah haid ( yang telah baligh) kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah)." (HR. Abu Dawud)
 
Para ulama sepakat atas batalnya orang yang solat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.
 
Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadis Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu 'anhu, "Kancinglah ia (baju) walau dengan duri."
 
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid." (Al-A'raaf:31)  tatkala solat.
 
7. Masuk Waktu
 
Dalil dari As-Sunnah ialah hadis Jibril 'alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di awal waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: "Wahai Muhammad, soalat itu antara dua waktu ini."
 
Dan firman Allah 'azza wa jalla, "Sesungguhnya soalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa`:103)
 
Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah 'azza wa jalla, "Dirikanlah solat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (Al-Israa`:78)
 
8. Menghadap Kiblat
 
Dalilnya firman Allah, "Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya." (Al-Baqarah:144)
 
 


Rukun-Rukun Solat 

Rukun-rukun solat ada empat belas: 1.Niat 2. Berdiri bagi yang mampu, 3. Takbiiratul-Ihraam, 4. Membaca Al-Fatihah, 5. Ruku', 6. I'tidal setelah ruku', 7. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh,  8. Duduk di antara dua sujud, 9. Thuma'ninah (Tenang) dalam semua amalan, 10. Tertib rukun-rukunnya, 11. MembacaTasyahhud Akhir, 12. Duduk untuk Tahiyyat Akhir, 13. Selawat untuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 14. Salam dua kali. 
1. Niat 
Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bid'ah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya niat adalah hadits yang masyhur, "Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang akan diberi (balasan) sesuai niatnya." (Muttafaqun 'alaih dari 'Umar Ibnul Khaththab) . Empat Belas Rukun Solat 

2. Berdiri tegak pada solat fardhu bagi yang mampu
 
Dalilnya firman Allah 'azza wa jalla, "Jagalah solat-solat  dan solat wustha (shalat 'Ashar), serta berdirilah untuk Allah 'azza wa jalla dengan khusyu'." (Al-Baqarah:238)
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Solatlah dengan berdiri..." (HR. Al-Bukhary)
 
3. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: 'Allahu Akbar', tidak boleh dengan ucapan lain
 
Dalilnya hadis, "Pembukaan (dimulainya) solat dengan takbir dan penutupnya dengan salam." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
 
Juga hadis tentang orang yang salah shalatnya, "Jika kamu telah berdiri untuk soalat maka bertakbirlah." (Idem)
 
4. Membaca Al-Fatihah
 
Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap raka'at, sebagaimana dalam hadis,
 

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.
 
"Tidak ada solat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah." (Muttafaqun 'alaih)
 
5. Ruku'
 
6. I'tidal (Berdiri tegak) setelah ruku'
 
7. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
 

8. Duduk di antara dua sujud
 
Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah 'azza wa jalla, "Wahai orang-orang yang beriman ruku'lah dan sujudlah." (Al-Hajj:77)
 
Sabda Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, "Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi." (Muttafaqun 'alaih)
 
9. Thuma'ninah dalam semua amalan
 
10. Tertib antara tiap rukun
 
Dalil rukun-rukun ini adalah hadis musii` (orang yang salah shalatnya),
 
"Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: 'Kembali! Ulangi shalatmu!t Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, ... sampai ia melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: 'Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya!' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: 'Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian ruku'lah hingga kamu tenang dalam ruku', lalu bangkit hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk, lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
 
11.Membaca Tasyahhud Akhir
 
Tasyahhud akhir termasuk rukun solat sesuai hadis dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata, "Tadinya, sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: 'Assalaamu 'alallaahi min 'ibaadih, assalaamu 'alaa Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah 'azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril 'alaihis salam dan Mikail 'alaihis salam)', maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 
"Jangan kalian mengatakan, 'Assalaamu 'alallaahi min 'ibaadih (Keselamatan atas Allah 'azza wa jalla dari para hamba-Nya)', sebab sesungguhnya Allah 'azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan tetapi katakanlah, 'Segala penghormatan bagi Allah, selawat, dan kebaikan', ..." Lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hadis keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang soalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.
 
12. Duduk Tasyahhud Akhir
 
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seseorang dari kalian duduk dalam solat maka hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat." (Muttafaqun 'alaih)
 
13. Selawat atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
 
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Jika seseorang dari kalian solat... (hingga ucapannya beliau shallallahu 'alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia berselawat atas Nabi."
 
Pada lafazh yang lain, "Hendaklah ia berselawat atas Nabi lalu berdoa." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
 
14. Dua Kali Salam
 
Sesuai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "... dan penutupnya (solat) ialah salam."
 

Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun solat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap melakukan solat karena kalau meninggalkan salah satu rukun solat baik dengan sengaja atau pun lupa maka solatnya batal, harus diulang dari awal.





Perkara Yang Membatalkan Sembahyang
 




Ertinya tidak Sah Sembahyang serta terbatal jika perlakuan ini dan perlu dibuat semula, yang membatalkan sembahyang ialah:- 



Batal Wuduk.
Makan dan Minum dengan sengaja walaupun seteguk air atau sebiji nasi sekalipun (sisa makanan di dalam mulut).
Terbuka Aurat.
Melangkah, tiga langkah berturut-turut.
Terdapat najis di badan , pakaian atau tempat sembahyang.
Tertawa Terbahak-bahak.
Bercakap, berkata-kata dengan sengaja.
Berubah Niat.
Mendahulu Imam sampai dua rukun.
Meninggalkan rukun Sembahyang.





 Wallaahu A'lam.

No comments: